Cerita tentang peradaban tempat mereka menjadi bagian. Dari Andalusia, Baghdad, Tiongkok, Afrika, hingga Aceh. Ajak anak mengenal perjalanan panjang umat Islam melalui cerita, peta, ilustrasi, dan percakapan yang membuat sejarah terasa lebih hidup.
“Aku menyadarinya justru ketika melihat rak buku ketiga anakku.”
Alhamdulillah, anak anakku suka membaca. Buku di rumah pun tidak sedikit. Ada cerita keseharian, pengetahuan, adab, juga kisah Islami yang sudah berkali kali kami baca bersama.
Tapi sebagai ibu sekaligus Read Aloud Trainer, aku kemudian bertanya pada diri sendiri: sudah berapa banyak buku yang kubacakan kepada mereka tentang perjalanan besar peradaban Islam?
Ternyata belum banyak.
Dari situlah buku ini terasa bukan sekadar tambahan koleksi. Ia bisa menjadi pintu masuk untuk percakapan yang selama ini belum banyak kami mulai.
Menurutku daya tarik buku ini baru benar benar terasa ketika kita melihat bagian dalamnya. Coba perhatikan bagaimana cerita, peta, ilustrasi, dan infografis ditempatkan dalam satu halaman. Bukan seperti buku pelajaran yang meminta anak menghafal, tetapi seperti undangan untuk menjelajah.
Saat melihat halaman halamannya, coba bayangkan satu hal: pertanyaan apa yang mungkin keluar dari mulut anak ketika kita membacanya bersama?
Aku Mau Punya Buku Ini di RumahPutar videonya sampai beberapa halaman. Lihat sendiri ritme bukunya, ukuran visualnya, dan ruang ruang kecil yang bisa membuat anak berhenti untuk bertanya. Buatku sebagai Read Aloud Trainer, justru di sinilah bukunya terasa menarik.
Lihat halaman demi halaman.
Jangan buru buru. Perhatikan titik mana yang membuatmu sendiri ingin berhenti dan melihat lebih dekat. Biasanya, di situlah rasa ingin tahu anak juga mulai bekerja.
Bayangkan ini menjadi sesi read aloud di rumah.
Kita membaca sedikit, menunjuk gambar, melihat peta, lalu membiarkan pertanyaan anak membawa percakapan ke mana mana.
Nama, tahun, kerajaan, dan peristiwa sering terasa seperti hafalan. Padahal sejarah bisa dikenalkan melalui cerita dan visual yang lebih hidup.
Kita punya banyak buku tentang adab, Nabi, sahabat, dan keseharian. Namun perjalanan panjang umat Islam belum tentu mendapat ruang yang sama.
Orang tua tidak harus menjadi ahli sejarah lebih dulu. Buku yang terstruktur memberi titik awal yang lebih mudah.
Tidak ada yang salah dengan itu. Akan lebih kaya lagi jika mereka juga mengenal kota, ilmu, tokoh, dan perjalanan nyata dari sejarah umatnya.
Bukan lewat ceramah panjang, tetapi lewat rasa takjub, penasaran, dan percakapan yang muncul dari sebuah cerita.
Buku yang baik masih hidup setelah halamannya selesai, lewat pertanyaan dan obrolan yang muncul sesudahnya.
Jangan jangan bukan anak kita yang tidak suka sejarah. Bisa jadi mereka hanya belum bertemu sejarah dalam bentuk yang terasa menarik.
Anak diajak melihat bahwa perjalanan umat Islam membentang jauh, melintasi Timur Tengah, Afrika, Eropa, Asia, sampai Nusantara.
Kisah tidak berhenti pada masa awal Islam. Anak diajak melihat perjalanan peradaban setelah era Khulafaurrasyidin.
Narasi, peta, ilustrasi, dan infografis memberi konteks sehingga sejarah terasa seperti perjalanan, bukan hafalan.
Keadilan, kecintaan pada ilmu, ketekunan, kemurahan hati, kepemimpinan, dan ihsan hadir lewat perjalanan sejarah.
Hari ini anak mungkin terpikat visualnya. Beberapa tahun lagi ia bisa kembali dan memikirkan sebab akibat, tokoh, nilai, dan kontribusi sebuah peradaban.
Satu kisah bisa membawa anak ke geografi, ilmu pengetahuan, arsitektur, budaya, tokoh, dan sejarah dunia.
Sebagai Read Aloud Trainer, bagian yang paling menarik bagiku adalah kemungkinan percakapannya.
Peta bisa menjadi bahan mengamati. Ilustrasi bisa memancing prediksi. Fakta sejarah bisa berubah menjadi pertanyaan.
Satu peradaban. Satu sesi membaca bersama. Satu percakapan yang mungkin terus mereka ingat.
| Sebelum punya pintu masuknya | Yang bisa mulai tumbuh |
|---|---|
| Sejarah terasa jauh dan rumit | Anak mendapat gambaran besar melalui cerita, peta, ilustrasi, dan infografis. |
| Bingung mulai mengenalkan peradaban dari mana | Orang tua punya 12 kisah yang dapat dibaca sedikit demi sedikit. |
| Read aloud berhenti ketika halaman selesai | Buku membuka ruang untuk bertanya, menghubungkan, dan berdiskusi. |
| Identitas Muslim lebih sering dikenalkan melalui nasihat | Anak bisa melihat perjalanan, nilai, dan kontribusi umat Islam melalui cerita. |
| Rak buku minim tema sejarah dunia Islam | Keluarga memiliki referensi visual yang dapat kembali dibuka di fase usia berbeda. |
Peradaban Islam yang Menakjubkan merupakan versi Bahasa Indonesia dari The Amazing Muslim World. Learning Roots berbasis di London dan menurut materi resminya telah berkarya selama 19 tahun, produknya hadir di lebih dari 33 negara, serta diterjemahkan ke enam bahasa.
Grow the Seed mendapat kepercayaan menghadirkan karya Learning Roots dalam Bahasa Indonesia. Edisi lokal ini melewati proses penerjemahan, penyuntingan, pemeriksaan aksara, dan penataan ulang untuk pembaca Indonesia.
Karena harga yang aku tawarkan saat ini Rp149.000 dari harga normal Rp189.000. Selisih Rp40.000 untuk buku yang tidak selesai dalam sekali baca, tetapi bisa kembali dibuka ketika usia dan pertanyaan anak terus bertumbuh.
Estimasi buku siap akhir Oktober. Kalau buku seperti ini memang ingin Bunda hadirkan di rumah, harga Rp149.000 ini bisa diamankan sekarang.
Aku Mau Pesan SekarangTidak perlu meminta anak membaca dari halaman pertama sampai terakhir dalam sekali duduk.
Mulai dari satu kisah yang membuatnya penasaran. Lihat petanya. Amati ilustrasinya. Baca beberapa bagian. Berhenti untuk bertanya. Lanjutkan lagi ketika rasa ingin tahunya muncul.
Satu peradaban. Satu sesi read aloud. Satu percakapan.
Aku Mau Mulai dari Satu CeritaBuku dapat dibacakan atau dibaca bersama mulai usia 7 tahun, dibaca mandiri mulai sekitar usia 9 tahun, dan tetap dapat dinikmati remaja maupun orang dewasa.
Ya. Sampul menggunakan greyboard hardcover. Isi buku full color menggunakan art paper.
Bukan. Harga normalnya Rp189.000. Harga yang ditawarkan melalui halaman ini adalah Rp149.000.
Estimasi buku siap akhir Oktober.
Klik salah satu tombol WhatsApp. Pesan otomatis akan masuk ke nomor kontak yang membagikan link halaman ini.
Format narasi, peta, ilustrasi, dan infografis memberi banyak titik untuk berhenti, mengamati, bertanya, dan berdiskusi bersama anak.
Bukan supaya mereka hidup di masa lalu. Justru supaya mereka mengenal siapa dirinya, belajar dari orang orang sebelum mereka, lalu tumbuh dengan keberanian untuk memberi kontribusi pada zamannya sendiri.
Kalau Bunda juga ingin menghadirkan percakapan seperti itu di rumah, mungkin buku ini layak mendapat satu tempat di rak keluarga.
Pesan Peradaban Islam yang Menakjubkan