Aku mau tanya sesuatu yang mungkin sudah lama tidak kamu tanyakan pada dirimu sendiri: siapa kamu, sebelum menjadi ibu? Bukan siapa yang lain ingin kamu jadi. Bukan siapa yang diharapkan keluargamu. Tapi kamu, yang sesungguhnya.
Ada ibu yang datang ke sesi coaching, dan aku tanya pertanyaan itu. Ia diam hampir satu menit penuh, yang dalam sesi terasa jauh lebih lama dari itu. Lalu ia bilang, pelan: “Aku lupa.”
Dua kata. Tapi membawa begitu banyak.
Aku tidak kaget. Karena sejujurnya, aku pernah ada di titik yang sama. Bukan karena aku sengaja melupakan diriku. Tapi karena setiap hari selalu ada yang lebih mendesak untuk dipikirkan, jadwal anak, kebutuhan rumah, pekerjaan suami, urusan yang tidak pernah habis. Dan diri sendiri, entah kenapa, selalu jadi yang paling gampang ditunda.
Menjadi ibu adalah transformasi terbesar dalam hidup seorang perempuan. Tapi tidak ada yang mengajarkan kita cara membawa diri kita sendiri ke dalam peran itu, tanpa kehilangan diri dalam prosesnya. Kita cuma dikasih tahu cara mengurus bayi, cara MPASI, cara mendisiplinkan anak. Tidak ada modul soal bagaimana tetap jadi dirimu, di tengah semua itu.
Yang aku pelajari, pelan-pelan: kamu tidak harus memilih antara menjadi ibu yang baik dan menjadi dirimu sendiri. Justru sebaliknya, ibu yang mengenal dirinya, adalah ibu yang paling utuh yang bisa hadir untuk anaknya. Bukan karena teorinya begitu, tapi karena aku melihatnya sendiri, berulang kali, di ruang-ruang coaching.
Jadi malam ini, coba tanyakan itu ke dirimu sendiri. Bukan untuk dijawab sempurna. Cukup ditanyakan dulu. Kadang itu langkah pertama yang paling berarti, bukan menemukan jawabannya, tapi berani bertanya lagi setelah sekian lama tidak.
Petakan fasemu sekarang
Worksheet 1, Kenali Fase Kehilangan Dirimu bisa jadi tempat mulai menjawab pertanyaan itu, pelan-pelan, tanpa terburu-buru.