Aku suka belajar. Namun, aku juga pernah menyadari bahwa keinginan untuk terus berkembang bisa berubah menjadi cara halus untuk mengatakan bahwa diriku hari ini belum cukup baik.
Selama bertahun-tahun aku berada di banyak ruang belajar. Ada pelatihan, komunitas, sesi pengembangan diri, pengalaman memimpin, dan kesempatan mendampingi orang lain. Setiap ruang memberiku pengetahuan baru. Namun, ada satu pertanyaan yang pelan-pelan tumbuh: sebenarnya aku belajar karena ingin bertumbuh, atau karena terus berusaha membuktikan bahwa diriku layak?
Pertanyaan itu tidak nyaman. Ia membuatku melihat bahwa pencapaian dan rasa aman tidak selalu berjalan beriringan. Seseorang bisa terlihat produktif, dipercaya memimpin, dan tetap diam-diam merasa belum cukup.
Ketika Pengembangan Diri Menjadi Bentuk Penolakan Diri
Pengembangan diri biasanya dibicarakan sebagai sesuatu yang selalu baik. Kita diminta menjadi lebih disiplin, lebih percaya diri, lebih teratur, lebih produktif, dan lebih berani. Tidak ada yang salah dengan keinginan tersebut.
Masalahnya muncul ketika seluruh proses dimulai dari kebencian terhadap diri sekarang. Kita berolahraga karena jijik pada tubuh. Kita belajar karena takut dianggap tidak pintar. Kita beribadah karena panik melihat orang lain tampak lebih saleh. Kita mengikuti kelas demi kelas karena berhenti sejenak terasa seperti kegagalan.
Perubahan yang ditenagai rasa takut kadang memang membuat kita bergerak cepat. Namun, ia juga mudah membuat kita lelah. Setiap kemajuan hanya memberi lega sebentar, lalu standar baru muncul dan kita kembali merasa kurang.
Bertumbuh seharusnya membuat kita semakin jujur dan bertanggung jawab, bukan semakin mahir mempermalukan diri sendiri.
Fitrah Bukan Versi Ideal yang Harus Kita Kejar
Dalam psikologi Islam, manusia dipandang memiliki fitrah. Bagiku, konsep ini membawa harapan. Fitrah bukan gambaran bahwa manusia akan selalu baik tanpa perjuangan. Ia adalah arah dasar yang membuat kita selalu mungkin kembali.
Model jiwa dalam psikologi Islam menggambarkan proses perkembangan sebagai gerak untuk menyelaraskan nafs, aql, qalb, dan ruh dengan fitrah serta kehendak Allah.[1] Artinya, pertumbuhan bukan proyek menciptakan manusia baru dari nol. Ada proses membersihkan, mengenali, melatih, dan mengarahkan kembali apa yang sudah Allah amanahkan.
Al-Qur’an menyebut jiwa beserta potensi jalan kefasikan dan ketakwaannya, lalu mengaitkan keberuntungan dengan upaya menyucikannya.[2] Aku memahami penyucian di sini bukan sebagai alasan untuk membenci sisi diri yang belum selesai. Justru karena jiwa adalah amanah, ia perlu dididik dengan kesungguhan dan kasih sayang.
Kasih Sayang kepada Diri Bukan Membiarkan Diri
Ada yang khawatir bahwa berbicara lembut kepada diri akan membuat kita manja. Menurutku, kekhawatiran ini muncul karena kita sering menyamakan ketegasan dengan kekerasan.
Padahal, seorang ibu dapat tegas kepada anak tanpa merendahkannya. Seorang guru dapat mengoreksi tanpa menghancurkan harga diri murid. Demikian pula kita dapat mengakui kesalahan sendiri tanpa menyimpulkan bahwa diri kita sepenuhnya buruk.
Kalimat “aku melakukan kesalahan” membuka pintu perbaikan. Kalimat “aku memang selalu gagal” menutupnya. Yang pertama mengarahkan perhatian pada tindakan. Yang kedua mengubah kesalahan menjadi identitas.
Kasih sayang kepada diri tidak menghapus taubat, evaluasi, atau disiplin. Ia menjaga agar semua itu tidak berubah menjadi kekerasan batin.
Tiga Perubahan Kecil dalam Cara Aku Berbicara kepada Diri
1. Dari vonis menjadi pengamatan
Aku mencoba mengganti “aku berantakan” dengan kalimat yang lebih spesifik: “Minggu ini aku sulit mengatur waktu karena energiku sedang rendah.” Kalimat yang spesifik membantu kita menemukan langkah. Vonis hanya membuat diri terasa semakin sempit.
2. Dari target besar menjadi satu amanah
Ketika semuanya terasa penting, aku bertanya: amanah apa yang paling perlu kujaga hari ini? Tidak semua hal harus diselesaikan sekaligus. Memilih bukan berarti mengabaikan tanggung jawab. Memilih adalah cara menjalankan tanggung jawab sesuai kapasitas nyata.
3. Dari perbandingan menjadi arah
Aku belajar bahwa perjalanan orang lain bisa menjadi inspirasi, tetapi tidak harus menjadi ukuran. Pertanyaan yang lebih sehat bukan “mengapa aku belum seperti dia?” melainkan “apakah langkahku hari ini mengarah pada nilai yang ingin kujaga?”
POV-ku: Ibu Tidak Perlu Rusak Dulu untuk Layak Bertumbuh
Banyak promosi pengembangan diri bekerja dengan membuat perempuan merasa ada yang salah pada dirinya. Ia dibuat cemas, lalu ditawarkan solusi. Aku tidak ingin membangun ruang seperti itu.
Seorang ibu boleh mengikuti kelas bukan karena dirinya rusak, tetapi karena ia berharga. Ia boleh belajar mengelola emosi bukan karena marah membuatnya tidak pantas dicintai, tetapi karena relasi di rumah layak dijaga. Ia boleh mengenali bakat bukan karena peran sebagai ibu kurang bermakna, tetapi karena seluruh potensi yang Allah titipkan juga memiliki tempat.
Bagiku, pertumbuhan yang sehat tidak berkata, “Aku baru akan menerima diriku setelah berhasil berubah.” Ia berkata, “Karena hidup ini amanah, aku akan merawat dan mengarahkannya dengan sungguh-sungguh.”
Kita tidak harus memilih antara menerima diri dan memperbaiki diri. Penerimaan yang jujur justru memberi tanah yang lebih kokoh untuk berubah.
Kalau hari ini kamu sedang kecewa kepada diri sendiri, mungkin langkah pertama bukan membuat target baru. Coba duduk sebentar dan tanyakan: bagian mana yang perlu diperbaiki, dan bagian mana yang sebenarnya hanya sedang membutuhkan belas kasih?
Referensi
- Rothman, A., & Coyle, A. (2018). Toward a Framework for Islamic Psychology and Psychotherapy.
- Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an, QS. Asy-Syams ayat 7 sampai 10.
Belajar memperbaiki diri tanpa memusuhi diri
Kalau kamu ingin mempelajari emosi, identitas, kekuatan, dan pertumbuhan spiritual bersama ibu lain, kamu boleh bertanya tentang kelasnya dahulu.