Dan setelah itu, alih-alih istirahat, kamu habiskan sisa malam untuk menghakimi dirimu sendiri. “Ibu macam apa aku ini.”
Marahmu itu bukan bukti kamu ibu yang buruk. Ia adalah sinyal, dari sistem yang sudah bekerja terlalu keras, untuk waktu yang terlalu lama, tanpa cukup ruang untuk pulih.
Emosi sebagai konstruksi, bukan reaksi
Dr. Lisa Feldman Barrett (Harvard) membuktikan emosi bukan reaksi terhadap dunia, melainkan konstruksi otak, prediksi berdasarkan pengalaman masa lalu, kondisi tubuh, dan energi yang tersedia. Artinya, ketika kamu meledak pada anakmu, sering kali itu bukan tentang anakmu, itu tentang semua yang sudah menumpuk sebelumnya.
Allah tidak menciptakan emosi sebagai kesalahan. Ia menciptakannya sebagai informasi. Al-Qur’an tidak pernah memerintahkan kita untuk tidak merasakan emosi, yang diperintahkan adalah mengelolanya dengan sadar.
Riset University of Denver menemukan: ibu yang menekan emosi secara konsisten justru lebih mudah meledak tanpa terduga, karena emosi yang ditekan tidak hilang, ia hanya menunggu.
Reaktif vs responsif
Tujuan bukan menjadi ibu yang tidak pernah marah. Tujuan adalah menjadi ibu yang tahu apa yang sedang ia rasakan, tahu mengapa, dan punya pilihan tentang bagaimana ia merespons. Itu bedanya reaktif dan responsif.
Pertanyaan untuk kamu simpan hari ini: emosi apa yang paling sering datang tanpa kamu undang, dan apa yang biasanya terjadi tepat sebelum ia muncul? Perhatikan polanya, di situ ada informasi berharga tentang dirimu.
Cek tangki emosimu hari ini
Worksheet 2 membantumu mendeteksi tandanya sebelum meledak, dan memilih alat regulasi yang tepat untuk saat ini.