Ada masa di mana aku ngerasa jadi orang yang gampang banget baper. Komentar kecil dari suami yang biasanya aku cuekin, sekarang bisa bikin aku mikirin semalaman. Adegan sedih di film yang dulu biasa aja, sekarang bikin aku nangis diam-diam di kamar mandi.
Aku sempat mikir, “aku lebay ya jadi orang”. Tapi setelah aku cari tahu lebih dalam, ternyata bukan soal lebay. Ada alasan yang cukup jelas secara biologis dan psikologis.
Perubahan hormon pascamelahirkan, termasuk penurunan tajam estrogen dan progesteron, berdampak langsung ke regulasi emosi di otak, bukan cuma perasaan “baper” biasa. Ini bukan kelemahan karakter, ini kimiawi tubuh yang sedang menyesuaikan diri, dan bisa berlangsung jauh lebih lama dari yang orang kira, bukan cuma beberapa minggu pertama.
Ditambah lagi, kurang tidur kronis, yang hampir jadi standar hidup ibu baru, juga terbukti mengurangi kemampuan otak meregulasi respons emosional, membuat reaksi terhadap hal kecil terasa jauh lebih besar dari seharusnya.
Yang membantu aku, bukan menyuruh diri sendiri “jangan baper”, itu justru bikin makin tertekan. Yang membantu adalah mengakui, “oke, aku memang lagi sensitif sekarang, dan itu ada alasannya, bukan salahku.” Dari situ, aku bisa kasih diriku ruang buat merasa, tanpa menghakiminya.
Kalau kamu lagi di fase ini, nggak perlu buru-buru “memperbaiki” dirimu. Cukup akui dulu bahwa yang kamu rasakan itu valid, dan biasanya, seiring tubuh dan pola tidur mulai stabil, sensitivitas ini juga pelan-pelan mereda.
Cek tangki emosimu hari ini
Worksheet 2 bisa bantu kamu mengenali kondisi tangkimu, tanpa menghakimi diri sendiri karena sedang sensitif.