Ada masa ketika aku mengira belajar harus punya hasil yang mudah dipamerkan: gelar baru, jabatan baru, atau setidaknya satu baris tambahan di profil profesional. Lalu aku menjadi istri, ibu dari tiga anak, dan hidup pelan-pelan mengoreksi cara pandang itu.

Dulu aku pikir ilmu harus pergi jauh agar dianggap berguna

Waktu masih single, belajar terasa seperti jalan yang lurus. Ada kelas, target, tugas, lalu langkah berikutnya. Aku bisa mengejar rasa ingin tahu dengan ritme yang cukup bebas. Setelah menikah dan menjadi ibu, jalannya tidak lagi lurus. Kadang belajarnya sambil menunggu anak tidur. Kadang satu halaman dibaca tiga kali karena pada percobaan pertama aku dipanggil, percobaan kedua ada yang minta minum, dan percobaan ketiga aku sendiri lupa tadi sedang membaca apa.

Kalau dipikir-pikir, ibu memang punya bakat membaca buku dengan teknologi multi-tab. Sayangnya, sebagian tab itu berbunyi, “Bunda, kaus kakiku di mana?”

Di fase itu sempat muncul pertanyaan yang tidak selalu berani kuucapkan: untuk apa melanjutkan belajar kalau ijazahnya tidak segera dipakai mengejar jabatan? Apakah waktuku terlalu banyak dihabiskan di rumah? Apakah semua yang pernah kupelajari sedang berhenti?

Lalu aku melihat ilmu bekerja di tempat yang tidak punya panggung

Jawabannya tidak datang dalam satu momen dramatis. Ia hadir melalui kejadian yang sangat biasa. Aku mulai memperhatikan pilihan kata ketika anak sedang marah. Aku belajar berhenti sebelum membalas pasangan saat tubuh sudah lelah. Aku lebih cepat menyadari kapan pikiranku sedang membuat kesimpulan yang belum tentu benar.

Di situlah aku mengerti: seorang ibu tidak hanya diukur dari ijazah yang dipakai di luar rumah atau sederet jabatan yang terlihat. Ilmunya bisa terasa dari cara ia membersamai anak, menata ritme keluarga, meminta maaf, mengambil keputusan, dan menjaga agar rumah tetap menjadi tempat bertumbuh bagi semua orang, termasuk dirinya sendiri.

Ilmu tidak selalu berdiri di podium. Kadang ia duduk di lantai, menemani anak menangis, lalu membantu kita memilih respons yang lebih lembut.

Kembali kuliah, kali ini dengan hidup yang berbeda

Keputusan melanjutkan S2 Psikologi Islam di International Open University lahir pada fase hidup yang berbeda dari masa single. Aku tidak datang sebagai halaman kosong. Aku datang membawa cerita pernikahan, pengasuhan, kerja komunitas, pengalaman memimpin tim, kegagalan mengatur ritme, dan banyak percakapan bersama ibu yang tampak kuat tetapi diam-diam kelelahan.

Belajar psikologi Islam membuatku perlahan melihat diri dengan cara yang lebih utuh. Pikiran, perasaan, tindakan, tubuh, relasi, dan hubungan kepada Allah tidak berjalan di lorong yang terpisah. Ada nafs yang perlu dididik, aql yang perlu digunakan, qalb yang perlu dirawat, dan ruh yang mengingatkan ke mana semuanya kembali.

Perubahannya tidak datang sekaligus. Aku cuma mulai lebih cepat sadar ketika emosi naik. Aku juga lebih berani menerima bahwa tidak semua fase harus tampak produktif. Sedikit demi sedikit, aku belajar berdamai dengan bagian diri yang belum rapi, tanpa memakai penerimaan sebagai alasan untuk berhenti bertumbuh.

Guru-guru yang mengubah cara pandangku

Dari Muslim Woman Coaching dan pendekatan I.S.L.A.M. bersama Kak Ochi, aku belajar mendampingi tanpa merebut kemudi hidup orang lain. Dari Talents Mapping Abah Rama Royani, aku belajar bahwa kekuatan sering bekerja dalam hal yang kita anggap biasa. Dari Coach Darmawan Aji, aku belajar membuat produktivitas lebih realistis dan tidak memusuhi ritme hidup.

Inner Game Life Coach Academy bersama Coach Sonny Abi Kim membantuku melihat percakapan di dalam diri. Pelatihan read aloud bersama Bu Rossie justru mengajarkanku mendengar anak, bukan hanya membacakan kata. Setiap kelas membenahi satu bagian kecil dalam caraku memahami diri dan orang lain.

Belajar bukan pelarian dari peran, tetapi cara kembali ke dalamnya

Aku masih suka kelas, buku, diskusi, dan halaman catatan yang penuh coretan. Bukan karena ingin terlihat selalu sibuk belajar. Aku belajar karena hidup terus berubah, sementara setiap peran meminta cara hadir yang lebih matang.

Ilmu yang baik seharusnya tidak membuatku merasa lebih tinggi dari orang lain. Ia seharusnya membuatku lebih rendah hati ketika mendengar, lebih hati-hati ketika menyimpulkan, dan lebih bersungguh-sungguh ketika mengamalkan.

Allah bertanya, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9). Bagiku, ayat ini bukan alasan untuk mengumpulkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Ia adalah pengingat bahwa pengetahuan semestinya mengubah cara kita melihat, memilih, dan berjalan.

Kalau kamu sedang belajar di sela-sela hidup yang ramai

Jangan buru-buru menganggap prosesmu terlambat atau tidak berguna. Mungkin ilmu itu sedang mencari jalan pulang: ke cara kamu berbicara, mengasuh, bekerja, berdoa, dan memperlakukan dirimu sendiri.

Tidak semua ilmu perlu tepuk tangan. Ada yang cukup menjadi cahaya kecil agar rumah terasa lebih teduh.

Ceritakan Fase Belajarmu